Sabtu, 05 Maret 2016

Keunggulan DA Shidiqiin Wara` Purwojati

Diniyah Athfal Shidiqiin Wara`. Keunggulan DA Shidiqiin Wara` Purwojati

Diniyah Formal DA Shidiqiin Wara` Purwojati yang merupakan pendidikan formal dalam bidang keagamaan memiliki keunggulan yang selama ini dibuktikan dan diakui oleh masyarakat sekitar yang pernah menyekolahkan anak-anaknya maupun anggota keluarga atau saudaranya ke DA Shidiqiin Wara Purwojati Banyumas. Keunggulan yang diketahui oleh masyarakat yaitu dalam bidang CALISTUNG pada anak-anak dibawah 6 tahun dan yang mengalami kesulitan belajar Caslistung walau dalam keterbatasan sarana dan prasarana namun sangat berprestasi

Mutu selalu menjdai jaminan di Diniyah Athfal Shidqiin Wara`, sehingga akan selalu terkontrol jhasilpendidikan dari DA Shidiqiin Wara` di bawah mutu pendidikan Ponpes Shidiqiin Wara` dan Yayasan Guru Ngaji Indonesia

Keunggulan-keunggulan itu diantaranya yaitu:

  1. Siswa dapat membanca huruf latin pada usia 5 tahun
  2. siswa dapat menulis latin sangat baik layaknya anak kelas 3 SD keatas
  3. Siswa dapat membaca alquran minimal iqro 6
  4. Siswa dapat berhitung dalam ribuan untuk operasi pengurangan dan penjumlahan.
  5. Siswa dapat menghafal suratan pendek dan doa-doa harian serta doa sholat.
  6. lainnya

Selasa, 12 Mei 2015

Kyai Muhammad Syechan Penopang Diniyah Athfal Shidiqiin Wara`

Diniyah Athfal Shidiqiin Wara` Purwojati. Kyai Muhammad Syechan Penopang Diniyah Athfal Shidiqiin Wara`

Keberadaan Diniyah Athfal (DA) Shidiqiin Wara` Purwojati merupakan bentuk keseriusan PP Shidiqiin Wara` di bawah Yayasan YGNI Banyumas dalam menembangkan dakwah dan pendidikan. Dakwah melalui lembaga pendidikan betul-betul diperhatikan oleh penyelenggara pendidikan diniyah formal.

Sebagai diniyah formal pertama yang sesuai dengan PP. nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan, maka DA Shidiqiin Wara` tidak menerima bantuan dari pemerintah maupun dan lainnya bahkan dari orang tua muridpun tidak diwajibkan untuk membayar iuran sekolah.

Para siswa yang belajar di Diniyah Athfal Shidiqiin Wara Purwojati Banyumas tidak dipungut kewajiban untuk membayar sekollah namun apabila ada yang mau menyumbang atau berinfaq kepada lembaga pendidikan maka kami tidak menolaknya

Sejak berdiri pada tahun 2008, operasional pendidikan Diniyah Athfal Shdiqiin Wara` Purwojati menjadi donatur tetap pendidikan diniyah formal tersebut. Tiap bulan menyisihkan hartanya untuk operasional pendidikan diniyah formal. Disamping itu juga diniyah mendapat sumbangan atau infaq dari keluarga BP Makmur.

Atas jasa-jasa Almarhum Kyai Muhammad Syechan kami ucapkan banak terima kasih semoga amal dan infaq diterima di sisi Allah dan mendapat ganjaran pahala yang berlipat-lipat juga bagi yang lain yang telah menyisihkan hartanya untuk kegiatan kami. Terima kasih untuk Sang Kyai Muhammad Syechan Penopang Diniyah Athfal Shidiqiin Wara` dan lainnya. Jasa-jasa Beliau untuk epmbanguna dan pendidikan sangat besar, Beliau pernah menjadi Pembina Pemuda Pakarti, pendiri PP Shidiqiin Wara`.Pendorong terbentuknya TBM Media Cerdik,  dan lainnya.

Kami sangat berteima kasih apabila ada pengusaha, orang-orang yang mampu mau membantu pembangunan ruang kelas kami. Kami sangat membutuhkan bantuan pembanguna ruang kelas baru, selama ini kegiatan pendidikan dilakukan di pinggir masjid Al-Rukiyah Purwojati Banyumas. Tanah untuk pembangunan gedung sudah tersedia 420 m2.

Tanah tersebut juga digunakan untuk kegiatan bersama Diniyah Ula, Diniyah Wustho, Diniyah Ulya, dan lainnya. Sehingga keberadaan gedung sangat dibutuhkan saat ini. Gedung digunakan untuk pendidikan bagi orang-orang yang tidak mampu seperti selama ini dilaksankan.

Kami sangat menunggu bantuan para donatur seberapun besarnya akan kami terima dan kami ucapkan terima kasih atas kebaikan dan sumbangan anda.

Kurikulum pengembangan dari Kyai Muhammad Syechan suami Nyai Rukiyah

Rabu, 01 April 2015

Cara Membuat Proposal PTK

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik di sini berarti pihak yang terlibat (guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilannya sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian tindakan.

Karena itu guru dituntut untuk mampu membuat proposal PTK-nya sendiri guna memecahkan masalah yang ada dalam proses pembelajarannya.
Dalam membuat proposal PTK biasanya para guru mengacu kepada format PTK dari Depdiknas yang terdiri dari :
A. JUDUL PENELITIAN
Setelah kita membahas bagaimana cara menemukan masalah, langkah selanjutnya adalah membuat Judul Penelitian. Dalam membuat judul penelitian, beberapa hal yang harus diketahui adalah judul itu harus:
1. Komunikatif, mudah dipahami maksudnya oleh pembaca
2. Memuat variabel penelitian
3. Menjawab apa yang ingin ditingkatkan
4. Dengan cara apa/upaya apa untuk meningkatkannya.
5. Sasaran dan Lokasi tercermin dalam judul;
6. Banyak kata sekitar 15-20 kata
Judul penelitian hendaknya singkat dan spesifik tetapi cukup jelas mewakili gambaran tentang masalah yang akan diteliti dan tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan atau sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi. Alasan pemilihan judul juga harus:
• Menarik minat
• Layak diteliti
• Bermanfaat bagi masyarakat, dll.
Contoh judul penelitian Tindakan kelas antara lain :
1.           Inovasi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sekitar (IPAS) Pokok Bahasan Kimia Lingkungan Melalui Pembuatan Film tentang Pencemaran Lingkungan Sekitar Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Rekayasa Perangkat Lunak 1 SMK Negeri 8 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007 (Oleh : Ardan Sirodjuddin, S.Pd.)
2.           Pembelajaran Berbasis Project Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Geografi Kelas XII IPS SMA Muhammadiyah Wonosari Tahun Pelajaran 2007/2008 (Oleh : Dra. Sri Wahyuni Dwiyanti M.Pd).
3.           Penggunaan Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas III IPS SMA Negeri 1 Randublatung Pada Semester I Tahun Pelajaran 2004/2005. (Oleh : Juremi)
4.           Penggunaan ”Dakon Elektron” Dalam meningkatkan Keefektifan Proses Pembelajaran IPA Kelas I Kecantikan Kulit Pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2004/2005 SMK Negeri 1 Tegal (Oleh : Ibnu Hajar Dewantoro).
B. BIDANG ILMU
Tuliskan bidang ilmu (Jurusan) dari Ketua Peneliti dan kajian masalah yang diteliti. Bidang penelitian yang diteliti sebaiknya relevan dengan disiplin ilmu guru, misalnya guru matematika tidak membahas pembelajaran yang ada di pelajaran Biologi. Begitupun sebaliknya. Terkecuali penelitian yang ditekuninya masih ada hubungannya dengan disiplin ilmu yang dimiliki. Contohnya pembuatan media pembelajaran.
C. PENDAHULUAN
Penelitian dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Dalam pendahuluan harus dikemukakan:
1.           Latar belakang masalah secara jelas dan sistematis, yang meliputi:
a. Uraian tentang kedudukan mata pelajaran dalam kurikulum (semester,  mata pelajaran yang ditunjang dan mata pelajaran penunjang);
b. Gambaran umum isi mata pelajaran tsb termasuk pembagian waktunya (lampirkan Analisis Instruksional, RPP, Silabus dari mata pelajaran yang bersangkutan);
c. Metode pembelajaran yang digunakan saat ini.
2.           Masalah yang dihadapi guru ditinjau dari hasil belajar yang dicapai siswa selama proses pembelajaran.
Kriteria masalah yang dapat dibuat PTK adalah :
• Masalah di sekolah/di kelas
• Layak diteliti dan terjangkau PTK
• Perlu ada: identifikasi masalah; analisis masalah.
• Rumusan masalah: singkat; jelas; operasional.
• Bukan permasalahan individual siswa, tetapi masalah kelas;
D. PERUMUSAN MASALAH
Rumuskan masalah penelitian dalam bentuk suatu rumusan penelitian tindakan kelas. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan diambil dan hasil positif yang diantisipasi.
Kemukakan secara jelas bahwa masalah yang diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di kelas, penting dan mendesak untuk dipecahkan. Setelah didiagnosis (diidentifikasi) masalah penelitiannya, selanjutnya perlu diidentifikasi dan dideskripsikan akar penyebab dari masalah tersebut.
Pada perumusan masalah perlu diperhatikan :
Substansi:
Perlu mempertimbangkan bobot dan manfaat tindakan yang dipilih untuk meningkatkan dan/atau memperbaiki pembelajaran
Orisinalitas (tindakan):
Perlu mempertimbangkan belum pernah tidaknya tindakan dilakukan guru sebelumnya
Formulasi: dirumuskan dalam kalimat tanya, tidak bermakna ganda, lugas menyatakan secara eksplisit dan spesifik apa yang dipermasalahkannya, dan tindakan yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut
Teknis:
Mempertimbangkan kemampuan peneliti untuk melaksanakan penelitian, seperti kemampuan metodologi penelitian, penguasan materi ajar, teori, strategi dan metodologi pembelajaran, kemampuan menyediakan fasilitas (dana, waktu, dan tenaga).
Contoh perumusan masalah :
• Apakah pembelajaran berbasis project dapat meningkatkan prestasi belajar geografi khusus kompetensi dasar keterampilan dasar peta dan pemetaan pada siswa kelas XII IPS SMA Muhammadiyah Wonosari tahun 2007/2008 ?
• Apakah pembelajaran berbasis project dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran pada kompetensi dasar keterampilan dasar peta dan pemetaan kelas XII IPS SMA Muhammadiyah Wonosari tahun 2007/2008 ?
• Apakah pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kualitas proses belajar matematika siswa SMPN 5 Jepara?
• Apakah pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMPN 5 Jepara?
E. CARA PEMECAHAN MASALAH
Uraikan pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, sesuai dengan kaidah penelitian tindakan kelas (yang meliputi: perencanaan-tindakan-observasi/ evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus). Cara pemecahan masalah telah menunjukkan akar penyebab permasalahan dan bentuk tindakan (action) yang ditunjang dengan data yang lengkap dan baik.
F. TINJAUAN PUSTAKA
Uraikan dengan jelas kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan teori, temuan dan bahan penelitian lain yang dipahami sebagai acuan, yang dijadikan landasan untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir dikemukakan hipotesis tindakan yang menggambarkan tingkat keberhasilan tindakan yang diharapkan/diantisipasi.
G. TUJUAN PENELITIAN
Kemukakan secara singkat tujuan penelitian yang ingin dicapai dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga tampak keberhasilannya.
H. KONTRIBUSI HASIL PENELITIAN
Uraikan kontribusi hasil penelitian terhadap kualitas pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi siswa, guru, maupun komponen pendidikan lainnya. Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dari penelitian ini.
I. METODE PENELITIAN
Uraikan secara jelas prosedur penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan obyek, latar waktu dan lokasi penelitian secara jelas. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan-tindakan-observasi/evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklis. Tunjukkan siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah ke siklus lainnya. Jumlah siklus disyaratkan lebih dari dua siklus.
J. JADWAL PENELITIAN
Buatlah jadwal kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil penelitian dalam bentuk bar chart. Contohnya, jadwal kegiatan penelitian disusun selama 10 bulan.
K. PERSONALIA PENELITIAN
Jumlah personalia penelitian maksimal 3 orang. Uraikan peran dan jumlah waktu yang digunakan dalam setiap bentuk kegiatan penelitian yang dilakukan. Rincilah nama peneliti, golongan, pangkat, jabatan, dan lembaga tempat tugas, sama seperti pada Lembar Pengesahan.
Lampiran-lampiran
1. 
Daftar Pustaka, yang dituliskan secara konsisten menurut model APA, MLA atau Turabian.
2. Riwayat Hidup Ketua Peneliti dan Anggota Peneliti
3. Cantumkan pengalaman penelitian yang relevan telah dihasilkan sampai saat ini

Minggu, 22 Februari 2015

Siswa DA Shidiqiin Wara` Tahun Pelajaran 2014-2015

Gambar




Mengatasi Kesulitan Mengajar Calistung dengan Metode Sidik

DA Shidiqiin Wara` Purwojati Mengatasi Kesulitan Mengajar Calistung dengan Metode Sidik.

Dr. Hartono,MSi Dir. Pascasarjana IAINU Kebumen & Raras Wuri
Diniyah Athfal Shidiqiin Wara` Purwojati yang didirikan dan beroperasi sejak 1 Juli 2008 telah berpengalaman dalam pendidikan PAUD. Pendidikan PAUD Diniyah Athfal merupakan lembaga model baru di sistem pendidikan nasional.

Banyak kontroversi dalam mengenai boleh atau tidaknya mengajar membaca, menulis, dan menghitung (Calistung) pada anak PAUD formal maupun non formal. Bagi kami penyelnggara pendidikan Diniyah Athfal Shidiqiin wara` dibawah Yayasan Guru Ngaji Indonesia Cabang Banyumas merupakan hal biasa mengajar Calistung. Diniyah Athfal (DA) Shidiqiin Wara` Purwojati yang dipimpin oleh Raras Wuri Miswandaru,SPdI, MPdI. sejak beroperasi sudah mengajarkan calistung sampai sekarang berhasil dengan sukses. Sukses yang dimaksud adalah anak bisa membaca, menulis, dan menghitung pada anak PAUD. Metode yang kami pakai adalah metode SIDIK atau lebih dikenal dengan Strategi Pembelajaran Swara Rabani. Metode Sidik merupakan penemuan Raras Wuri Miswandaru yang sudah teruji bertahun-tahun memiliki manhaj tersendiri. Metode ini terbukti sukses untuk mengatasi kesulitan belajar Calistung, Bukti Sukses dan Keunggulan DA Shidiqiin Wara` diakui oleh masyarakat sekitar yang didokumentasikan dalam pendapat hasil pembelajaran tersebut.

Mengajar Calistung dikatakan sebagai penyiksaan merupakan penghinaan bagi guru yang berkompeten dalam bidangnya., Kalau ada pihak yang tidak setuju tidak usah dikait-kaitkan dengan kata penyiksaan. Para imam-imam penulis hadits dan buku lainnya mereka belajar dar berumur PAUD dan sukses diusia anak-anak.
Murid & Ortu-nya dalam Pembelajran Swara Rabani di DA Shidiqiin Wara` Purwojati

Kalau tidak berkompeten dalam bidangnya maka jangan sekali-kali mengatakan penyiksaan terhadap anak walau itu seorang Doktor pendidikan sekalipun. Karena mengajar adalah hasil dari keilmuan dan praktek pengalaman yang diperbaiki setiap tahunnya sehingga guru mendapaktan kompetensi yang sesuai.

Dengan metode Swara Rabani (Shidik) Diniyah Athfal Shidiqiin Wara` ini dapat dilaksanakan dengan sangat baik dan sukses tanpa cacat walau memiliki keterbatasan sarana dan prasarana namun pembelajaran dapat berhasil dengan baik. Sekolah ini selalu di evaluasi dan diawasi mutunya oleh Ponpes Shidiqiin Wara` Purwojati di bawah penyelenggara Yayasan Guru Ngaji Indonesia.Pendidik diambil dari tenaga-tenaga muda khususnya dari organisasi Pemuda Pakarti Purwojati

Sabtu, 09 November 2013

Mendesain PAUD, Mencetak Insan Cerdas Komprehensif


KOMPAS.com - Peran Direktorat Jenderal Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal Kementerian Pendidikan Kebudayaan ((PAUDNI Kemdikbud) amat penting dalam rangka mempersiapkan generasi emas. Bahkan, bisa dikatakan, perannya menentukan kualitas generasi mendatang, karena pendidikan usia dini merupakan cikal bakal pembentukan kecerdasan, moral, dan karakter seorang anak.
Pada masa usia emas (golden age), otak anak-anak mampu secara cepat menyerap berbagai informasi yang diterima dari lingkungan sekelilingnya. Pada masa ini pula anak-anak mahir meniru tingkah laku dan kebiasaan yang dilihat di sekitarnya.
Semua itu berlangsung secara alami. Maka, jika yang diterima si anak adalah perilaku baik, ia dapat meniru kebiasaan baik tersebut hingga dewasa. Sebaliknya, saat anak menerima perilaku buruk, hal tersebut juga akan ditirunya hingga dewasa.
Berkaitan dengan generasi emas yang sedang dipersiapkan untuk menyonsong 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia, pemerintah dan masyarakat harus lebih perhatian terhadap pendidikan dan gizi anak-anak, terutama yang masih dalam fase golden age. Para generasi emas ini diharapkan tampil di era tersebut sebagai manusia-manusia terbaik, berakhlak mulia, berkarakter, dan cerdas.
"Anak-anak dengan usia 0-9 tahun dan 10-19 tahun yang berjumlah lebih dari 89 juta jiwa, pada 2045 nanti akan berada para usia produktif. Pada usia tersebut, tentu mereka diharapkan dapat menjadi generasi yang produktif dan kompetitif secara global," ujar Direktur Jenderal PAUDNI Kemdikbud, Lydia Freyani Hawadi, di Bogor (15/6/2013) lalu.
Sejak usia dini inilah, anak-anak perlu mendapat bimbingan, baik dari lingkungan keluarga maupun lewat lembaga PAUD, seperti kelompok bermain (KB), tempat penitipan anak (TPA), taman kanak-kanak (TK), atau satuan PAUD sejenis (SPS). Melalui bimbingan ini, anak-anak usia dini kelak dapat menjadi generasi emas Indonesia yang mampu bersaing di kancah internasional.
Untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut, Direktorat Jenderal PAUDNI telah menyusun konsep besar, di antaranya gerakan PAUD-isasi yang merupakan tonggak penguatan dan kebulatan tekad untuk membangunPAUD. Gerakan ini dilakukan dengan membangun lembaga PAUD dengan target: satu desa, satu PAUD.
"Saat ini baru ada 10 provinsi yang seluruh desanya sudah memiliki lembaga PAUD dan masih lebih dari 15.000 desa yang harus segera dibangun. Ini target kami selama dua tahun ke depan," ujar Lydia.
Pembangunan PAUD di Indonesia diarahkan secara bertahap menuju insan cerdas komprehensif pada 2045 sebagai kado 100 tahun Indonesia merdeka. Dimulai pada 2011 melalui gerakan PAUD-isasi, menuju fundamental SDM berkualitas pada 2015, kemudian melahirkan SDM andal pada 2025, dan pada 2035 mengantarkan SDM yang mampu bersaing secara global.
Hasil penelitian menunjukkan, anak-anak yang dididik dengan baik selama dalam kandungan hingga usia tujuh tahun memiliki kolerasi positif terhadap prestasi si anak di tingkat pendidikan dasar.
"Kita berharap, anak-anak yang mengikuti PAUD memiliki fondasi yang kuat untuk mengikuti pendidikan di jenjang berikutnya," tutur Lydia.
Untuk memperkuat gerakan nasional PAUD tersebut, Ditjen PAUDNI menyusun berbagai program yang terbagi dalam empat bagian, mulai dari pembelajaran dan peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, serta kelembagaan. Pada bagian pertama, pihaknya melakukan penguatan pendidikan karakter anak dengan mengintegrasikan pendidikan karakter dalam keseluruhan proses pembelajaran PAUD. Selain itu, dilakukan pula diversifikasi pola pembelajaran yang disesuaikan dengan budaya dan potensi daerah, termasuk menyiapkan bahan dan media pembelajaran yang dikembangkan dengan sistem berbasis e-learning.
Saat ini, Ditjen PAUDNI juga mendorong perluasan PAUD holistik-integratif melalui Pos PAUD dan BKB (bina keluarga balita), dan satuan PAUD lainnya. Program ini mampu mengoptimalkan kecerdasan anak sesuai dengan tahap kembang anak, dan memberikan kesiapan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Di Jawa Timur program ini dikenal dengan nama �Taman Posyandu�, yaitu integrasi antara Posyandu danPAUD. Sementara itu, di Mamuju program ini diberi nama �Stimulasi, Optimasi, Intervensi Layanan Anak atau disingkat dengan SOILA,�.
Pendidikan kepramukaan
Terkait pendidikan karakter, Ditjen PAUDNI juga meningkatkan pelayanan pendidikan kepramukaan dalam rangka membangun karakter anak melalui peningkatan mutu dan kompetensi pembina dan pelatih pramuka. Ditambah dengan penguatan program pengasuhan (parenting) di satuan PAUD melalui pelatihan parenting bagi orangtua yang memiliki anak usia 0-2 tahun.
Pelatihan semacam ini juga dilakukan di Amerika Serikat, di mana orangtua diikutkan dalam pelatihan-pelatihan sehingga mereka tidak melepas begitu saja pengurusan tumbuh kembang si anak kepada lembaga PAUD.
"Kita ingin orangtua menjadi mandiri. Bagaimana pun, orangtua, khususnya ibu, merupakan pendidik yang pertama dan utama," Lydia menambahkan.
Untuk menyelenggarakan kebijakan tersebut, tentu harus diikuti dengan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan PAUDNI yang baik. Oleh karena itu, Ditjen PAUDNI menyelenggarakan program peningkatan kapasitas, kapabilitas, serta profesionalitas pendidik dan tenaga kependidikan PAUD yang berkelanjutan. Peningkatan kapasitas, kapabilitas, serta profesionalitas tersebut dilakukan melalui pelatihan, pemagangan, serta pemberian penghargaan dan perlindungan yang merata, adil, dan berkelanjutan.
"Kami berusaha memberikan insentif, meskipun jumlahnya kecil, sebagai bentuk perhatian kami kepada tenagaPAUD," katanya.
Selain itu, sebagai penunjang pelaksanaan program, Ditjen PAUDNI meningkatkan kapasitas kelembagaanPAUD melalui perbaikan sistem manajemen informasi, asistensi, dan advokasi, peningkatan sarana dan prasarana yang memadai, dan peningkatan kapasitas tenaga yang profesional. Pada Unit Pelaksana Teknis Pusat dan Daerah, tengah dikembangkan model dan program percontohan program PAUD.
Lydia mengakui, Ditjen PAUDNI tidak dapat berjalan sendiri untuk melaksanakan program PAUD-isasi tersebut. Peran perguruan tinggi dalam menyediakan jurusan PAUD sangat penting untuk menghasilkan tenaga PAUDyang berkualitas. Sayangnya, hingga saat ini tidak banyak perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan untuk calon tenaga PAUD.
"Padahal, kita membutuhkan guru PAUD yang berkualitas. Saya meminta Ditjen Dikti untuk juga punya perhatian pada PAUD ini," imbuhnya.
Melalui program yang dijalankan Ditjen PAUDNI, diharapkan target peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK)PAUD secara nasional dapat terus meningkat pada 2014 sehingga mencapai 45,05. Dukungan berbagai pihak, mulai dari swasta dan masyarakat, diharapkan dapat mempercepat target pembangunan PAUD yang pada saatnya nanti menghasilkan generasi emas Indonesia berkualitas. Dengan demikian, semua elemen bangsa dapat menegakkan kepala ketika bangsa Indonesia memperingati kemerdekaannya pada tahun 2045. (RATIH)